Pemimpin Tanpa Pengetahuan Agama, Ibarat Lentera Tanpa Cahaya

Lensa Wajo
, Jumat, Oktober 09, 2026 WIB Last Updated 2026-10-09T06:23:45Z
Enblog.us
Ketgam: Lentera tanpa cahaya dan ikrar sumpah jabatan (Ilustrasi - dok. LW) 


LENSAWAJO.COM - Menjadi pemimpin bukan sekadar tentang jabatan, kekuasaan, atau kemampuan menggerakkan orang lain. Kepemimpinan adalah amanah yang menuntut kebijaksanaan, kejujuran, dan tanggung jawab, bukan hanya kepada manusia, tetapi juga kepada Tuhan Yang Maha Esa.


Pemimpin yang memiliki kecerdasan tanpa dibimbing nilai-nilai agama berisiko kehilangan arah dalam menggunakan kekuasaannya.


Ilmu pengetahuan dapat mengajarkan seseorang bagaimana mencapai tujuan, tetapi nilai-nilai agama mengajarkan mana yang benar, mana yang salah, serta bagaimana memperlakukan sesama manusia dengan adil dan bermartabat.


Pengetahuan agama bukan semata-mata tentang seberapa banyak ayat yang dihafal, seberapa fasih seseorang berbicara tentang kebaikan, atau seberapa sering ia tampil dalam kegiatan keagamaan. Lebih dari itu, pengetahuan agama seharusnya tercermin dalam perilaku, keputusan, dan cara seseorang menjalankan amanah.


Seorang pemimpin yang memahami nilai-nilai agama akan menyadari bahwa kekuasaan bukanlah hak untuk bertindak sesuka hati. Jabatan bukanlah alat untuk memuaskan kepentingan pribadi, melainkan kesempatan untuk memberikan manfaat bagi banyak orang.

Ia memahami bahwa keadilan tidak boleh dikalahkan oleh kedekatan, kejujuran tidak boleh dikorbankan demi keuntungan, dan kepentingan rakyat tidak semestinya tunduk pada kepentingan kelompok.


Sebaliknya, ketika kekuasaan berjalan tanpa kendali moral, jabatan dapat berubah menjadi kesombongan, keputusan menjadi alat kepentingan, dan kritik dianggap sebagai ancaman. Pada titik itulah kepemimpinan kehilangan makna sejatinya.


Pemimpin tanpa pemahaman agama dan nilai-nilai moral ibarat lentera tanpa cahaya: bentuknya ada, tetapi gagal menerangi jalan bagi orang-orang yang dipimpinnya.


Namun, agama juga tidak boleh dijadikan sekadar simbol untuk membangun citra. Kesalehan seorang pemimpin tidak cukup diukur dari penampilan, ucapan, atau seremoni keagamaan. Ukuran yang lebih nyata adalah bagaimana ia bersikap ketika menghadapi godaan kekuasaan, bagaimana ia memperlakukan orang kecil, serta bagaimana ia mengambil keputusan ketika kepentingan pribadi berbenturan dengan kepentingan umum.


Pemimpin yang benar-benar memahami ajaran agama tidak akan alergi terhadap kritik. Ia justru menyadari bahwa kritik yang disampaikan dengan itikad baik dapat menjadi pengingat agar tidak terjerumus dalam kesalahan. Ia tidak merasa paling benar, sebab kerendahan hati merupakan bagian penting dari kebijaksanaan.


Pada akhirnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan pemimpin yang pintar berbicara, pandai menyusun program, atau cakap mengelola pemerintahan. Masyarakat membutuhkan pemimpin yang memiliki ilmu, berpegang pada nilai moral, dan menjadikan agama sebagai salah satu landasan etika dalam menjalankan amanah.


Pada prinsipnya kecerdasan dapat membawa seseorang ke puncak kekuasaan, tetapi kebijaksanaan, integritas, dan ketakwaanlah yang menentukan bagaimana kekuasaan itu digunakan.


Jabatan mungkin memberikan kehormatan di mata manusia, tetapi cara seseorang menunaikan amanah akan menentukan nilai kepemimpinannya.


Karena itu, sebelum bertanya seberapa tinggi jabatan seseorang, patut pula kita bertanya: seberapa dalam ilmunya, seberapa kuat integritasnya, dan seberapa jauh nilai-nilai kebaikan benar-benar hidup dalam dirinya?


Pemimpin yang hebat bukanlah mereka yang hanya mampu berdiri di depan orang banyak, melainkan mereka yang mampu menjaga hati, menegakkan keadilan, dan mempertanggungjawabkan setiap amanah yang dipercayakan kepadanya.


Pengetahuan agama yang tidak diwujudkan dalam perilaku hanya akan menjadi wacana. Namun, ketika nilai-nilai agama hidup dalam tindakan, kepemimpinan dapat menjadi jalan pengabdian dan membawa manfaat bagi sesama.




Catatan Penulis :
Naskah ini disusun berdasarkan refleksi pribadi penulis yang terinspirasi dari sebuah kalimat singkat, tetapi sarat makna, "Pemimpin Tanpa Pengetahuan Agama Adalah Hampa," yang dikutip dari pesan seorang khatib saat menyampaikan khutbah Jumat di mimbar Masjid At-Taqwa Grand Hill 1, Kelurahan Atakkae, Kecamatan Tempe, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Jum'at, (9/10/2026).


Setiap diksi dipilih dengan hati-hati dan penuh tanggung jawab agar tidak disalahartikan oleh pembaca. 


Penulis memastikan, naskah ini tidak berafiliasi dengan kepentingan tertentu maupun dimaksudkan untuk menyudutkan tokoh mana pun, melainkan sebagai refleksi moral dan pengingat bagi setiap pemimpin agar senantiasa berpegang pada nilai-nilai agama, integritas, serta tanggung jawab dalam menjalankan amanah, sehingga tidak menyimpang dari sumpah jabatan yang telah diikrarkan. (IqL.A) 

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Pemimpin Tanpa Pengetahuan Agama, Ibarat Lentera Tanpa Cahaya
  • 0

Terkini

TOPIK UTAMA

Bupati Andi Rosman Raih Penghargaan SKK Migas atas Dukungan Survei Seismik 3D

Ket: Piagam Penghargaan atas Dukungan Survei Seismik 3D dan Perizinan LP2B BANDUNG - Bupati Wajo, Andi Rosman, menerima penghargaan dari Sa...

BACA JUGA


Ruang Lingkup