Iklan Adsense
Ads block
" alt="Banner 728x90px" style="max-width:100%; height:auto" />
Lensa Wajo - Menyajikan Fakta Secara Untuh dan Objektif. Mengulas berbagai peristiwa secara nyata, menyeluruh, berlandaskan fakta.
![]() |
| Foto : Masjid Tua Tosora (dok. Ist) |
WAJO - Masjid Tua Tosora merupakan salah satu warisan sejarah paling berharga yang dimiliki Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Berdiri kokoh sejak sekitar tahun 1621, masjid ini menjadi saksi bisu perjalanan panjang penyebaran Islam sekaligus perkembangan peradaban masyarakat Wajo.
Pada masa lampau, Tosora dikenal sebagai ibu kota Kerajaan Wajo. Dari kawasan inilah roda pemerintahan, perdagangan, pendidikan, dan dakwah Islam berkembang pesat hingga menjadikan Tosora sebagai pusat aktivitas masyarakat pada zamannya.
Arsitektur Masjid Tua Tosora mencerminkan ciri khas masjid-masjid kuno Nusantara. Bangunannya berbentuk bujur sangkar tanpa serambi, dengan konstruksi sederhana namun kokoh. Bentuk ini memiliki kemiripan dengan masjid-masjid tua yang berdiri di berbagai wilayah kerajaan Islam di Indonesia.
Meski telah berusia lebih dari empat abad, bangunan masjid ini masih mempertahankan karakter aslinya. Setiap sudutnya menyimpan kisah tentang perjuangan para ulama, raja, dan masyarakat yang bersama-sama membangun kehidupan berlandaskan nilai-nilai Islam.
Masjid Tua Tosora bukan sekadar tempat ibadah. Bangunan ini juga menjadi pusat penyebaran ilmu agama, tempat musyawarah, serta simbol persatuan masyarakat Wajo pada masa kerajaan.
Nilai sejarah, arsitektur, dan budaya yang dimiliki menjadikan Masjid Tua Tosora ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya di Provinsi Sulawesi Selatan. Status tersebut menjadi bentuk pengakuan atas pentingnya menjaga warisan leluhur agar tetap lestari.
Kini, Masjid Tua Tosora menjadi destinasi wisata sejarah dan religi yang banyak dikunjungi masyarakat, pelajar, peneliti, maupun wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat jejak kejayaan Kerajaan Wajo.
Berjalan di sekitar kawasan Tosora, pengunjung dapat merasakan suasana masa lalu yang masih begitu kental. Reruntuhan benteng, situs-situs bersejarah, dan lingkungan sekitar masjid menghadirkan gambaran tentang kehidupan masyarakat berabad-abad silam.
Keberadaan Masjid Tua Tosora menjadi pengingat bahwa kemajuan sebuah daerah tidak hanya dibangun oleh kekuatan ekonomi dan pemerintahan, tetapi juga oleh nilai-nilai keagamaan, pendidikan, dan persatuan masyarakat.
Warisan ini menjadi tanggung jawab bersama untuk dijaga, dirawat, dan diperkenalkan kepada generasi muda agar sejarah tidak hilang ditelan zaman.
Masjid Tua Tosora bukan hanya kebanggaan masyarakat Wajo, tetapi juga bagian dari kekayaan sejarah Islam di Indonesia yang patut dihormati dan dilestarikan.
Mari mengenal, menjaga, dan mencintai peninggalan sejarah kita. Sebab, dari situs-situs seperti Masjid Tua Tosora, kita belajar tentang akar peradaban, semangat persatuan, dan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para pendahulu.
![]() |
| Foto : Geddongnge, Wajo Sulawesi Selatan |
WAJO - Di kawasan bersejarah Tosora, Kabupaten Wajo, tidak hanya berdiri masjid tua yang menjadi simbol penyebaran Islam. Di tempat ini juga terdapat sebuah bangunan bersejarah yang memiliki peran penting dalam sistem pertahanan Kerajaan Wajo, yaitu Geddonge, gudang mesiu kerajaan.
Pada masa kejayaannya, Geddonge berfungsi sebagai tempat penyimpanan persenjataan dan amunisi. Dari bangunan inilah berbagai perlengkapan perang, seperti meriam, senapan, serta mesiu, disimpan dan didistribusikan untuk memperkuat benteng pertahanan Kerajaan Wajo.
Bangunan Geddonge memiliki bentuk segi empat dengan konstruksi yang kokoh. Dindingnya setebal sekitar 20 sentimeter, dirancang untuk melindungi persediaan mesiu dari berbagai ancaman sekaligus menjaga keamanannya.
Menariknya, arsitektur Geddonge memperlihatkan pengaruh gaya bangunan Eropa. Hal ini menunjukkan adanya perkembangan teknologi konstruksi serta hubungan Kerajaan Wajo dengan dunia luar pada masa itu.
Sebagai gudang persenjataan, Geddonge memegang peranan yang sangat strategis. Keberadaannya menjadi bagian penting dari sistem pertahanan kerajaan dalam menghadapi berbagai ancaman dan serangan musuh.
Bangunan ini menjadi bukti bahwa Kerajaan Wajo tidak hanya berkembang dalam bidang pemerintahan, perdagangan, dan keagamaan, tetapi juga memiliki kemampuan dalam membangun sistem pertahanan yang terencana dan terorganisasi.
Kini, Geddonge menjadi salah satu peninggalan sejarah yang mengingatkan kita akan kejayaan Kerajaan Wajo pada masa lampau. Setiap batu yang masih berdiri menjadi saksi bisu semangat perjuangan dan ketangguhan para pendahulu dalam menjaga kedaulatan wilayahnya.
Melestarikan Geddonge berarti menjaga jejak sejarah yang menjadi identitas masyarakat Wajo. Dari warisan inilah generasi masa kini dapat belajar tentang keberanian, strategi, dan kecerdasan para leluhur dalam mempertahankan tanah airnya.