![]() |
| Ketgam: Panggung FDT 2026 dengan Visual Perahu Phinisi. Darmawan Saputra angkat suara. |
WAJO – Penggunaan visual perahu phinisi pada panggung Festival Danau Tempe (FDT) 2026 di Kabupaten Wajo mendapat sorotan. Kehadiran simbol budaya maritim yang identik dengan wilayah pesisir Sulawesi Selatan itu dinilai perlu dipertanyakan relevansinya dengan tema yang diusung, yakni “Palisu Sumange' Ri Tana Wajo”.
Sorotan tersebut disampaikan Darmawan Saputra , yang menilai penempatan perahu phinisi sebagai latar utama panggung berpotensi menggeser pesan budaya yang hendak ditampilkan dalam festival yang mengangkat identitas Danau Tempe dan budaya masyarakat Wajo.
“Kalau temanya Palisu Sumange' Ri Tana Wajo, maka simbol visual yang ditampilkan seharusnya memperkuat identitas dan karakter budaya Wajo. Ketika yang ditonjolkan justru phinisi, pertanyaannya adalah pesan budaya apa yang sebenarnya ingin disampaikan,” ucap Darmawan kepada Lensa Wajo, Rabu (30/9/26).
Secara historis, phinisi merupakan bagian penting dari tradisi maritim masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya yang berkembang pada komunitas Bugis, Makassar, Konjo, dan Mandar. Tradisi pembuatan perahu tersebut dikenal kuat di wilayah Bulukumba, terutama Tana Beru, Bira, dan Ara, yang memiliki sejarah panjang sebagai kawasan pembuatan perahu tradisional.
Meski demikian, Darmawan Saputra yang akrab disapa Wawan mengatakan, bahwa penggunaan simbol phinisi dalam sebuah kegiatan di Wajo tidak serta-merta keliru. Namun, ketika simbol tersebut ditempatkan sebagai elemen utama dalam panggung festival yang membawa tema khusus tentang identitas Wajo, diperlukan penjelasan mengenai konsep kuratorial dan alasan pemilihannya.
“Ini bukan soal boleh atau tidak boleh menggunakan phinisi. Yang menjadi pertanyaan adalah kesesuaian simbol dengan tema. Festival budaya seharusnya mampu mempertegas identitas daerah, bukan justru membuat batas antara identitas Wajo dan identitas daerah lain menjadi kabur,” katanya.
Pria berambut gonrong itu mempertanyakan apakah penggunaan visual tersebut telah melalui kajian atau pembahasan yang melibatkan budayawan dan pihak yang memahami sejarah serta simbol budaya Wajo.
Dalam benaknya, Danau Tempe memiliki kekayaan budaya sendiri yang dapat diangkat sebagai identitas utama festival, mulai dari tradisi masyarakat nelayan, kehidupan pesisir danau, perahu tradisional yang digunakan masyarakat setempat, hingga berbagai tradisi yang tumbuh dari hubungan masyarakat Wajo dengan Danau Tempe.
“Kalau Danau Tempe yang menjadi pusat festival, mestinya kekuatan cerita tentang Danau Tempe dan budaya Wajo yang diperbesar. Jangan sampai simbol yang lebih dikenal sebagai identitas maritim daerah lain justru lebih dominan daripada identitas lokal yang hendak dipromosikan,” tegasnya
Wawan menyebut, selain Danau Tempe terdapat sejumlah situs bersejarah di Tanah Wajo, yang harusnya menjadi bagian dari materi promosi kebudayaan daerah.
“Selain Danau Tempe, Saoraja La Tenri Bali atau Rumah Adat Atakkae dan beberapa situs bersejarah di Tanah Wajo bisa ditampilkan. Ini menjadi bentuk promosi bahwa Wajo memiliki jejak sejarah panjang yang tercatat dan memiliki ikon budaya sendiri,” ujarnya
Bagi dia, kekayaan sejarah tersebut justru dapat menjadi kekuatan promosi daerah apabila dikemas secara konsisten dalam berbagai kegiatan pemerintah maupun festival kebudayaan.
“Kalau setiap festival dikemas dengan mengangkat ikon dan sejarah Wajo, lama-kelamaan masyarakat luar akan mengenal Wajo bukan hanya karena Danau Tempe, tetapi juga karena sejarah, rumah adat, situs budaya dan tradisi yang dimilikinya,” jelasnya
Karena itu, kata Wawan, festival daerah semestinya tidak berhenti pada kemeriahan acara, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan identitas lokal kepada masyarakat luas, termasuk generasi muda dan wisatawan.
“Festival harus punya cerita. Jangan sampai panggungnya megah, tetapi simbol yang ditampilkan justru tidak maksimal menceritakan siapa kita dan dari mana kita berasal," jelasnya
Wawan berharap ke depan penyusunan konsep Festival Danau Tempe melibatkan lebih banyak pihak yang memahami sejarah dan kebudayaan Wajo.
"Momentum seperti ini perlu melibatkan pihak yang benar-benar memahami tentang sejarah, kultural, dan budaya Wajo. Dengan demikian, simbol, narasi dan materi promosi yang digunakan tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki keterkaitan kuat dengan identitas daerah," pungkasnya.




