![]() |
| Ket: Bincang Literasi merupakan bagian dari kegiatan Festival Literasi Kabupaten 2026 yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah. |
WAJO – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Wajo sukses menggelar Bincang Literasi dengan mengangkat tema “Membaca Zaman, Merawat Tradisi, dan Menulis Masa Depan” di tribun utama Lapangan Merdeka Sengkang, Selasa (20/10/2026).
Kegiatan ini menjadi ruang pertukaran gagasan yang mempertemukan dunia literasi, kebudayaan, dan sastra dalam satu forum inspiratif. Ratusan mahasiswa dan mahasiswi dari berbagai perguruan tinggi di Kabupaten Wajo turut hadir, menunjukkan antusiasme generasi muda dalam memperluas wawasan serta memperkuat tradisi intelektual.
Diskusi tersebut menghadirkan tiga narasumber dengan latar belakang berbeda, yakni Ahmad Hadisra dari Kolong Literasi, Andi Rahmat Munawar selaku pemerhati budaya, serta Jumadi Aminuddin, dosen Universitas Palangka Raya sekaligus pegiat sastra.
Ketiganya memberikan perspektif mengenai pentingnya memahami perubahan zaman, menjaga identitas budaya, serta menjadikan tulisan sebagai medium untuk merekam pemikiran, pengalaman, dan kekayaan pengetahuan lokal.
Pada kesempatan tersebut, pemerhati budaya Andi Rahmat Munawar menyampaikan tiga poin penting terkait penguatan literasi kebudayaan.
Pertama, pentingnya literasi kebudayaan dalam membangun karakter dan menumbuhkan kepercayaan diri generasi muda agar mampu menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan identitas budaya.
Kedua, literasi kebudayaan perlu dimulai dari hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, termasuk tradisi, kebiasaan, dan kearifan lokal yang dijumpai di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Ketiga, pentingnya mempertahankan sekaligus meninjau kembali pembelajaran bahasa daerah agar tetap relevan dan menjadi bagian dari upaya melestarikan identitas serta warisan budaya bagi generasi mendatang.
Sementara, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Wajo, Erna Nurdin, mengatakan bahwa Bincang Literasi merupakan wadah bagi masyarakat, khususnya kalangan milenial, untuk memperluas cakrawala berpikir sekaligus memahami pentingnya menjaga keseimbangan antara kemajuan zaman dan kelestarian tradisi.
Menurutnya, perkembangan teknologi dan arus informasi yang semakin cepat perlu diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis serta kesadaran untuk mempertahankan nilai-nilai luhur yang tumbuh di tengah masyarakat.
“Melalui diskusi ini, literasi diharapkan tidak hanya dipahami sebagai aktivitas membaca dan menulis, tetapi juga sebagai upaya membangun kesadaran kritis serta mendokumentasikan pengetahuan dan kearifan lokal,” ujarnya.
Ia berharap forum tersebut mampu menumbuhkan semangat membaca, memperkuat budaya menulis, dan mendorong generasi muda untuk mengambil peran dalam merawat warisan kebudayaan melalui karya serta gagasan yang relevan dengan perkembangan masa kini.
"Kami berharap generasi muda tidak hanya gemar membaca, tetapi juga mampu menuangkan pemikiran dan merekam kearifan lokal melalui karya tulis yang bermanfaat bagi generasi mendatang,"
Bagi Erna Nurdin, merawat tradisi lewat gagasan dan tulisan menjadi bagian dari upaya menjaga warisan kebudayaan agar tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman.
Bincang Literasi bukan sekadar forum diskusi, melainkan menjadi pengingat bahwa tradisi dan modernitas bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan beriringan ketika pengetahuan terus dikembangkan tanpa kehilangan akar budaya.
Melalui kegiatan ini, Kabupaten Wajo diharapkan semakin memperkuat ekosistem literasi yang tidak hanya melahirkan generasi gemar membaca, tetapi juga insan yang mampu berpikir kritis, berkarya, dan mewariskan nilai-nilai kearifan lokal kepada generasi mendatang.







