Lima Tahun Vakum, Perpustakaan dan Kearsipan Wajo Bangkit, Andi Rosman Bawa Festival Literasi ke Panggung Sulsel

Lensa Wajo
, Selasa, Oktober 20, 2026 WIB Last Updated 2026-10-20T11:44:23Z
Enblog.us
Ket: Tampak Depan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Wajo


WAJO – Setelah lima tahun mengalami kevakuman, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Wajo kembali menunjukkan geliatnya. Di bawah kepemimpinan Bupati Wajo, H. Andi Rosman, S.Sos., M.M., sektor literasi daerah itu mulai menapaki kebangkitan melalui penyelenggaraan Festival Literasi dan Gempur Pustaka yang dipusatkan di Kabupaten Wajo.

Momentum tersebut menjadi penanda bahwa perpustakaan tidak sekadar berfungsi sebagai tempat menyimpan buku, melainkan ruang tumbuhnya gagasan, pembentukan karakter, serta penguatan budaya membaca di tengah masyarakat.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Wajo, Erna Nurdin, S.Sos.,M.Si mengungkapkan bahwa dukungan Bupati Andi Rosman menjadi salah satu faktor penting dalam menghidupkan kembali semangat literasi di daerah berjuluk Bumi Lamaddukelleng tersebut.

Menurut Erna, sosok Andi Rosman bukan hanya seorang kepala daerah yang menjalankan roda pemerintahan, tetapi juga figur seorang bapak yang mampu merangkul berbagai kalangan.

“Beliau bukan sekadar Bupati, melainkan bapak bagi seluruh kalangan. Dukungan dan perhatian yang diberikan menjadi energi bagi kami untuk kembali bergerak, menghadirkan program yang bermanfaat, serta membawa literasi Wajo tampil di panggung Sulawesi Selatan,” ungkap Erna, saat ditemui diruang kerjanya, Selasa (20/10/2026).

Melalui Festival Literasi dan Gempur Pustaka, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Wajo berupaya memperluas jangkauan gerakan membaca, mendekatkan bahan bacaan kepada masyarakat, serta membangun kesadaran bahwa pengetahuan merupakan fondasi kemajuan suatu daerah.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang kolaborasi bagi pemerintah, pegiat literasi, pelajar, komunitas, dan masyarakat untuk bersama-sama menumbuhkan kecintaan terhadap buku. Dengan demikian, literasi tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi diharapkan tumbuh menjadi kebiasaan yang mengakar dalam kehidupan sehari-hari.

Andi Rosman dan Harapan Baru Literasi Wajo

Kebangkitan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Wajo menghadirkan pesan bahwa perubahan sering kali bermula dari kepemimpinan yang memberikan ruang bagi gagasan untuk tumbuh. Ketika perhatian pemerintah bertemu dengan semangat aparatur, sesuatu yang sempat meredup dapat kembali menyala dan menemukan arah.

Bagi Erna Nurdin dan jajarannya, dukungan kepala daerah menjadi dorongan untuk membuktikan bahwa perpustakaan mampu mengambil peran strategis dalam membangun sumber daya manusia. Sebab, kemajuan tidak hanya diukur melalui pembangunan fisik, tetapi juga dari seberapa luas kesempatan masyarakat untuk mengakses ilmu pengetahuan.

Di tengah derasnya arus informasi digital, gerakan literasi justru semakin penting. Masyarakat membutuhkan kemampuan membaca secara kritis, memilah informasi, dan mengembangkan wawasan agar tidak mudah terombang-ambing oleh kabar yang belum teruji kebenarannya.

Festival Literasi dan Gempur Pustaka pun menjadi momentum untuk menegaskan kembali bahwa buku adalah jendela, perpustakaan merupakan rumah pengetahuan, sedangkan literasi menjadi jembatan menuju masa depan yang lebih cerah.

Ketika Kepemimpinan Menyalakan Cahaya Pengetahuan

Lima tahun bukanlah waktu yang singkat bagi sebuah gerakan untuk kehilangan denyutnya. Namun, sejarah selalu menyediakan kesempatan bagi sesuatu yang pernah terdiam untuk kembali berdiri, selama ada kemauan, keberanian, dan tangan yang bersedia membuka jalan.

"Di bawah kepemimpinan Andi Rosman, kebangkitan literasi Wajo menjadi gambaran bahwa seorang pemimpin tidak cukup hanya hadir dalam ruang-ruang pemerintahan. Ia juga diharapkan mampu menumbuhkan harapan, mendengar kebutuhan, serta memberikan kesempatan kepada setiap sektor untuk berkembang sesuai potensinya," ujar Erna Nurdin.

Pujian kepada seorang pemimpin tentu akan lebih bermakna apabila disertai hasil nyata yang dirasakan masyarakat. Karena itu, geliat baru perpustakaan hendaknya menjadi awal perjalanan panjang, bukan sekadar kemeriahan sesaat. Konsistensi program, pemerataan akses bacaan hingga wilayah terpencil, serta keberlanjutan pembinaan komunitas menjadi ukuran penting dari keberhasilan tersebut.

Andi Rosman kini memiliki kesempatan untuk meninggalkan jejak yang melampaui masa jabatan: menjadikan Wajo bukan hanya dikenal karena kekayaan sejarah dan budayanya, tetapi juga karena kecintaan masyarakatnya terhadap ilmu pengetahuan.

Sebab, seorang pemimpin yang baik mungkin dikenang karena kebijakan yang dibuatnya, tetapi pemimpin yang menghidupkan pendidikan akan dikenang melalui pikiran-pikiran cemerlang yang tumbuh setelah masanya berlalu.

Bagi Erna Nurdin, Buku boleh tersusun di rak, tetapi pengetahuan harus bergerak di tengah kehidupan. Perpustakaan boleh berdiri sebagai bangunan, tetapi literasi baru benar-benar hidup ketika setiap anak memperoleh kesempatan untuk bermimpi, setiap orang dewasa berani terus belajar, dan setiap generasi memiliki bekal untuk menatap hari esok.

"Makna sesungguhnya dari kebangkitan literasi Wajo, bukan semata-mata menghidupkan kembali sebuah dinas, melainkan menyalakan cahaya pengetahuan agar tidak padam di tengah perjalanan menuju kemajuan," pungkasnya

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Lima Tahun Vakum, Perpustakaan dan Kearsipan Wajo Bangkit, Andi Rosman Bawa Festival Literasi ke Panggung Sulsel
  • 0

Terkini

TOPIK UTAMA

Bupati Andi Rosman Raih Penghargaan SKK Migas atas Dukungan Survei Seismik 3D

Ket: Piagam Penghargaan atas Dukungan Survei Seismik 3D dan Perizinan LP2B BANDUNG - Bupati Wajo, Andi Rosman, menerima penghargaan dari Sa...

BACA JUGA


Ruang Lingkup